Opini Kader: Paham dan Asa KOHATI Cabang Bulaksumur, Sleman


Adita Putri Hapsari*)


"Seorang wanita ibarat lingkaran. Dalam dirinya ada kekuatan untuk menciptakan, memelihara dan mengubah. " (Diane Mariechild)
--
SEKILAS PANDANG KORPS HMI-WATI (KOHATI)

Berbincang cantik soal perempuan memang cukup luas dan tak ada habisnya. Mulai dari
kepiawaian perempuan untuk diberdaya-gunakan demi kemaslahatan umat, hingga isu-isu sensitif mengenai sosoknya. Mengingat luasnya bahasan mengenai perempuan, HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) sebagai garda terdepan pemuda dalam membangun bangsa cukup militan dalam mengeksekusi strategi terkait pengembangan perempuan.

Sebagai organisasi kader, HMI tentu memiliki misi yang harus dieksekusi. Dengan mempertimbangkan hal-hal yang telah dijabarkan, maka HMI membentuk sebuah badan khusus yang memiliki lapak kerja spesifik serta visioner mengenai keperempuanan. Dua (2) Jumadil Akhir 1386 H atau 17 September 1966 benar-benar menjadi satu titik tilikan refleksi nafas hidup KOHATI (Korps HMI-Wati). Masih pada hari yang sama, KOHATI sebagai badan khusus HMI (pasal 57 ART HMI) resmi dibentuk.

Nafas hidup KOHATI kiah hari kian dinilai penting. KOHATI didakwa sebagai kawah candradimuka kader-kader perempuan HMI yang berkualitas. Kualitas yang dihasilkan dari tempaan proses di KOHATI adalah kualitas perempuan terbaik sebagai seorang putri terhadap kedua orang tuanya, seorang ibu bagi anak-anaknya, istri bagi suaminya, dan masyarakat terbaik dari suatu sistem sosial kemasyarakatan.

Tiga (3) seikat: Eksistensi, aktualisasi serta akselerasi bertransformasi menjadi sebentuk nilai yang menopang tegaknya tubuh KOHATI dari lahir hingga sedewasa ini. Eksistensi merupakan nilai yang menjadi bahan bakar semangat kaum hawa untuk menjadi subyek aktif dalam pembangunan bangsa. Sedangkan aktualisasi merupakan sebuah pondasi perempuan guna berperan secara kongkrit untuk mengadakan pembaharuan serta perbaikan dalam menghadapi tantangan zaman. Serta, akselerasi merupakan semangat juang tersendiri untuk dengan sesegera mungkin melakukan percepatan peran sosiologis dan politis, yang ditunjukkan sebagai suatu kesatuan lembaga.

Sejak menjadi embrio, lahir, kemudian mendewasa, tentu KOHATI memiliki segepok tantangan yang luar biasa, lebih-lebih terkait dengan perguliran zaman. Menurut Aniswati (pendiri KOHATI), demi menjawab tantangan zaman, ada beberapa hal yang harus diperhatikan guna memperkuat eksistensi KOHATI. Hal tersebut antara lain peningkatan kualitas KOHATI secara periodik dan kontinue di tingkat pusat, regional dan cabang; kepemimpinan KOHATI yang handal, kompak dan terdiri atas berbagai disiplin ilmu, adanya pemanfaatan para alumniwati di setiap periode bagi perkembangan KOHATI; adanya pembinaan langsung dari HMI; serta berbagai program tukar informasi. Poin-poin yang disampaikan oleh yunda Aniswati begitu luar biasa karena masih dirasakan hingga saat ini.



HARAPAN UNTUK KOHATI CABANG BULAKSUMUR-SLEMAN

Nilai eksistensi, aktualisasi dan akselerasi sejatinya memiliki keterkaitan erat umum-khusus dengan poin-poin yang menjadi ‘center-point’ yunda Aniswati terkait eksistensi KOHATI. Mengingat hal tersebut, serta-merta mengharuskan kita sebagai anggota KOHATI untuk mentransformasikannya menjadi sebuah aksi nyata.

Peningkatan kualitas KOHATI sejatinya dimulai dari tingkatan yang paling awal, yaitu pada lingkup cabang. Melalui berbagai program kerja yang ditawarkan, diharapkan peningkatan kualitas KOHATI kian berfaedah.

Untuk mewujudkan hal tersebut, seyogyanya KOHATI Cabang Bulaksumur-Sleman tidak hanya mengharapkan sarana-prasarana peningkatan kualitas diri dari luar. Hal tersebut dikarenakan anggota KOHATI Cabang Bulaksumur-Sleman begitu plural dengan kesibukan masing-masing. Diprediksikan akan sering terjadi absen jika hanya memanfaatkan sarana-prasarana peningkatan kualitas diri dari luar. Masalah yang sering terjadi adalah sulitnya anggota KOHATI Cabang Bulaksumur-Sleman meluangkan waktu untuk menyesuaikan jadwal kegiatan di luar program Cabang Bulaksumur-Sleman. Menyikapi hal tersebut, KOHATI Cabang Bulaksumur-Sleman diharapkan dapat mengadakan program tersendiri khusus untuk latihan kepemimpinan para KOHATI-nya. Berbekal ‘alumni KOHATI’ yang telah mapan di dalam bidang kepemimpinan, program latihan kepemimpinan bagi KOHATI Cabang Bulaksumur-Sleman diharapkan dapat berjalan sukses.

Selain itu, untuk poin tukar menukar informasi (ilmu), KOHATI Cabang Bulaksumur-Sleman dapat mengadakan program kerja diskusi dengan interval waktu yang telah disepakati para anggotanya. Berbagai bidang asal para anggota KOHATI Cabang Bulaksumur-Sleman diekspektasikan dapat memperkaya wawasan KOHATI. Diharapkan pula dengan adanya transfer ilmu dari berbagai bidang, KOHATI dapat mengadakan berbagai gerakan untuk membantu menyelesaikan berbagai konflik sesuai dengan jargon ‘matang dalam pemahaman, sadar dalam pergerakan.’. Dengan adanya kematangan pemahaman dari tukar-menukar informasi, KOHATI Cabang Bulaksumur-Sleman dapat melanjutkannya menjadi berbagai program kerja gerakan langsung seperti sosialisasi masyarakat, kunjungan ke tempat-tempat yang memerlukan perhatian sosial lebih, serta menjadikan individu-individu anggotanya sebagai perempuan independen yang menginspirasi walaupun berdiri sendiri. Seperti menulis di Koran, mengikuti lomba-lomba sesuai passion, dan lain sebagainya. Tentu, dibutuhkan monitoring rutin dari KOHATI Cabang Bulaksumur-Sleman.

Berbagai kajian tentang wanita juga menjadi suatu hal yang dapat disepakati sebagai program kerja KOHATI Cabang Bulaksumur-Sleman. Hal tersebut bertujuan untuk menyiapkan perempuan Indonesia pada umumnya, KOHATI Cabang Bulaksumur-Sleman pada khususnya, menjadi perempuan yang paham akan perannya sebagai putri dari kedua orang tuanya, ibu dari anak-anaknya, istri dari suaminya serta masyarakat terbaik bagi bangsa Indonesia.

Tidak akan menjadi mudah pula jika KOHATI Cabang Bulaksumur-Sleman bangun hingga tidur dengan usaha sendiri. Diperlukan pula dukungan serta komunikasi intens antara KOHATI Cabang Bulaksumur-Sleman dengan HMI (HMI Cabang Bulaksumur-Sleman). Hal tersebut dapat diwujudkan melalui suatu kegiatan hearing dengan waktu yang telah disepakati antara KOHATI dan HMI Cabang Bulaksumur-Sleman.

Harapan akan selamanya tetap menjadi harapan tanpa adanya kesadaran serta partisipasi kongkrit anggota KOHATI Cabang Bulaksumur-Sleman. Program kerja akan selamanya tetap menjadi hal yang dibanggakan namun hanya dalam bentuk wacana tanpa adanya kesadaran serta partisipasi kongkrit anggota KOHATI Cabang Bulaksumur-Sleman. Sejatinya Indonesia akan membaik jika perempuan Indonesia sadar akan dirinya sendiri serta apa-apa yang dibutuhkan oleh bangsanya.

--

 “Setiap wanita yang memahami permasalahan saat mengurus ‘rumah tangga’, akan lebih mudah memahami permasalahan saat mengurus negara.” – (Margaret Thatcher)

*Penulis merupakan HMI Komisariat Hukum UGM

Komentar